Minggu, 27 Desember 2015

PROPOSAL PENGARUH PELAKSANAAN MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN TERBIMBING TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA di KELAS VIII MTsN MU’ALLIMIN PAKAN SINAYAN






PENGARUH PELAKSANAAN MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN TERBIMBING TERHADAP HASIL
BELAJAR MATEMATIKA di KELAS VIII
MTsN MU’ALLIMIN PAKAN SINAYAN



PROPOSAL


Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu tugas terstruktur dalam mata kuliah metodologi penelitian






Oleh :

Endang triana
NIM : 2413.003


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BUKITTINGGI
2015/2016


DAFTAR ISI

BAB I      PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah......................................................... 1.........
B.     Identifikasi Masalah............................................................... 4.........
C.     Pembatasan Masalah............................................................... 5.........
D.    Perumusan Masalah................................................................ 5.........
E.     Tujuan Penelitian.................................................................... 5.........
F.      Defenisi Operasional.............................................................. 5.........
G.    Manfaat Penelitian.................................................................. 6.........

BAB II    KAJIAN TEORI
A.    Belajar dan Pembelajaran Matematika................................... 7.........
B.     Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing........................ 10         
C.     Langkah-Langkah Penemuan Terbimbing............................ 16.........
D.    Hasil Belajar......................................................................... 18.........
E.     Kerangka Konseptual........................................................... 20.........
F.      Hipotesis............................................................................... 21.........

BAB III   METODOLOGI PENELITIAN
A.    Jenis Penelitian..................................................................... 22.........
B.     Rancangan Penelitian........................................................... 22.........
C.     Populasi dan Sampel............................................................. 23.........
D.    Variabel dan Data................................................................. 27.........
E.     Prosedur Penelitian............................................................... 28.........
F.      Instrumen Penelitian............................................................. 30.........
G.    Teknik Analisis Data............................................................ 34.........

DAFTAR KEPUSTAKAAN


1
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
            Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang diajarkan sejak sekolah dasar. Cockroft (Yulianti, 2009:2) menekankan perlunya mata pelajaran matematika diberikan di sekolah karena selalu digunakan dalam segala segi kehidupan dan semua bidang studi memerlukan keterampilan matematika yang sesuai. Matematika sebagai salah satu ilmu dasar yang dewasa ini telah berkembang sangat pesat, baik materi maupun kegunaannya. Matematika merupakan mata pelajaran yang memiliki objek abstrak yang berlandaskan kebenaran dan konsitensi. Kebenaran dan konsistensi matematika bukanlah yang pertama kali dikenal oleh siswa dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar.
Dalam pembelajaran matematika, siswa harus diberi kesempatan untuk ikut terlibat dalam pemecahan masalah agar pembelajaran itu lebih bermakna bagi siswa. Dan Jerome Bruner dalam teorinya menyatakan bahwa belajar matematika akan berhasil jika proses pengajaran diarahkan kepada konsep-konsep dan struktur-struktur terbuat dalam pokok bahasan yang diajarkan, disamping hubungan yang terkait konsep-konsep dan struktur-struktur.[1]
Dalam pembelajaran matematika dituntut keaktifan siswa agar proses belajar mengajar yang diharapkan terwujud. Salah satu tujuan pembelajaran matematika adalah terbentuknya kemampuan bernalar pada diri siswa yang dapat terlihat dari kemampuan berpikir kritis, logis, dan inovatif secara mandiri.[2] Agar siswa dapat menggali potensinya dengan baik, tentu pemahaman konsep terhadap materi yang akan diajarkan harus dikuasai oleh siswa tersebut dengan baik pula.
Menurut Brunner tingkat pemahaman siswa lebih dipengaruhi oleh siswa itu sendiri sedangkan pembelajaran matematika merupakan usaha membantu mengkonstruksi pengetahuan melalui proses, sebab mengetahui adalah suatu proses, bukan suatu produk.[3] Proses tersebut dimulai dari pengalaman, sehingga siswa harus diberi kesempatan sebesar-besarnya untuk mengembangkan pengetahuan yang mereka miliki.
Berdasarkan observasi pada tanggal 18 Desember 2015 di MTsN Mu’allimin Pakan Sinayan, diperoleh masih banyak siswa yang memperoleh nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Hal ini dapat terlihat dari rata-rata hasil belajar pada ulangan harian matematika kelas VIII yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini:




Tabel 1: presentase ketuntasan nilai ulangan harian matematika kelas VIII MTsN Mu’allimin Pakan Sinayan

Kelas
Jumlah Siswa
Nilai rata-rata
Persentase Tuntas
≥ 65
Persentase Tidak Tuntas
< 65
VIII.1
20
35,72
25%
75%
VIII.2
20
33,4
20%
80%
      Sumber: guru mata pelajaran
Dari tabel di atas, terlihat bahwa ulangan harian  matematika siswa kelas VIII MTsN Mu’allimin Pakan Sinayan  masih berada di bawah KKM. Menurut Kriteria ketuntasan di kelas VIII MTsN Mu’allimin Pakan Sinayan  tersebut adalah 65 untuk mata pelajaran matematika.
Bardasarkan hasil observasi pada tanggal 18 Desember  2015 di MTsN Mu’allimin Pakan Sinayan, terlihat proses pembelajaran masih berpusat pada guru. Dalam proses pembelajaran guru masih menggunakan metode ceramah, sedangkan siswanya terlihat kurang aktif mengikuti proses pembelajaran. Dalam pembelajaran terlihat ada siswa yang meribut dan berbicara dengan teman sebangkunya, mereka tidak memperhatikan guru menerangkan pelajaran, bahkan saat diberikan contoh soal, mereka hanya diam tanpa mau memecahkan dan menyelesaikan contoh soal tersebut, mereka hanya menuggu jawaban yang diberikan oleh guru.
Berdasarkan hasil wawancara penulis pada tanggal 18 Desember  2015  di MTsN Mu’allimin Pakan Sinayan dengan guru mata pelajaran diperoleh informasi bahwa dalam proses pembelajaran siswa tidak aktif, hal ini disebabkan karena mereka kurang memahami materi yang diajarkan, mungkin ada sebagian dari mereka yang mengerti namun mereka tidak mempunyai keberanian untuk menyajikan pendapat mereka.
Dari permasalahan di atas, diperlukan suatu model pembelajaran yang dapat memperbaiki pembelajaran matematika yang awalnya pembelajaran tersebut berpusat  pada guru diubah menjadi berpusat pada siswa dan dapat memeberikan kesempatan pada siswa untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya. Salah satunya yaitu Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing, karena model ini selain dapat mengembangkan kemampuan kognitif siswa, juga meningkatkan pemahaman siswa terhadap matematika. Sukses dalam mengajar hendaknya dinilai berdasarkan hasil yang mantap atau tahan lama dan dapat dipergunakan oleh siswa dalam hidupnya.[4]
Pemberian bimbingan dilakukan oleh guru kepada siswa agar proses belajar mengajar berjalan dengan baik. Dalam memberikan bimbingan, guru hendaknya memberikan pengarahan kepada siswa. Hal ini dapat dilakukan dengan membimbing siswa secara langsung sehingga kita dapat melihat kemampuan mereka menguasai materi pelajaran yang diberikan. Memberikan bimbingan pada siswa bertujuan agar siswa mampu bekerja sesuai prosedur dan dapat mencapai kemandirian.[5] Ilmu yang dapat tahan lama akan diperoleh jika siswa tersebut mampu menemukan suatu konsep dari permasalahan matematika.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis ingin melaksanakan penelitian yang berjudul “Pengaruh Pelaksanaan Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing Terhadap Hasil Belajar Matematika di Kelas VIII MTsN Mu’allimin Pakan Sinayan”.

B.     Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut:
1.      Hasil belajar siswa tergolong rendah.
2.      Kurangnya perhatian dan minat siswa terhadap pelajaran matematika.
3.      Pembelajaran yang berpusat pada guru.
4.      Siswa yang tidak aktif dalam pemecahan masalah matematika.

C.    Batasan Masalah
Karena keterbatasan kemampuan yang dimiliki, dan agar penelitian ini lebih terarah serta dapat mencapai tujuan yang diinginkan, maka masalah-masalah yang dibahas dalam penelitian ini difokuskan pada hasil belajar siswa tergolong  rendah.

D.    Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: “Apakah Ada Pengaruh Pelaksanaan Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing Terhadap Hasil Belajar Matematika di Kelas VIII MTsN Mu’allimin Pakan Sinayan”.

E.     Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan penelitian yang akan diteliti, maka penelitian ini bertujuan untuk: Mengetahui adakah pengaruh pelaksanaan model pembelajaran penemuan terbimbing terhadap hasil belajar siswa di kelas VIII MTsN Mu’allimin Pakan Sinayan.

F. Definisi Operasional
Agar tidak terjadi kesalahfahaman dalam memahami proposal ini, maka   penulis akan menjelaskan beberapa istilah di bawah ini :
1.      Model pembelajaran Penemuan Terbimbing adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada siswa dimana siswa mencari kesimpulan dari urutan pertanyaan yang diatur oleh guru sehingga siswa dapat menemukan konsep dan prinsip matematika.
2.      Hasil belajar adalah tolak ukur menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam memahami dan menguasai materi pelajaran.

F.     Manfaat  Penelitian
Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk:
1.      Pengalaman, bekal, pengetahuan, dan bahan masukan bagi penulis dalam usaha pengembangan diri sebagai calon guru matematika.
2.      Masukan bagi guru bidang studi matematika dalam upaya meningkatkan hasil belajar matematika siswa dan kualitas belajar siswa.
3.      Informasi bagi guru dan mahasiswa untuk dapat melakukan penelitian lebih lanjut.

7
BAB II
KERANGKA TEORITIS

A.    Belajar dan Pembelajaran Matematika
Belajar adalah proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.[6] Menurut Fontana belajar adalah proses perubahan tingkah laku individu yang relatif tetap sebagai hasil dari pengalaman. Sedangkan pembelajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang optimal.[7] Dengan demikian proses belajar bersifat internal dan unik dalam diri individu siswa sedangkan proses pembelajaran bersifat eksternal yang sengaja direncanakan dan bersifat rekayasa prilaku.
Adapun tingkah laku yang  dimiliki oleh orang yang belajar adalah:
a.       Perubahan terjadi secara sadar.
b.      Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional.
c.       Perubahan bersifat menetap.
d.      Perubahan dalam belajar bersifat aktif dan pasif.
e.       Perubahan terjadi secara terarah dan bertujuan.
f.       Perubahan dalam belajar mencakup seluruh aspek.[8]

Menurut Sardiman ada tiga jenis tujuan belajar, yaitu:
a.       Untuk mendapatkan pengetahuan.
b.      Penanaman konsep dan keterampilan.
c.       Pembentukan sikap.[9]
Peristiwa belajar yang disertai dengan proses pembelajaran akan lebih terarah dan sistematik dari pada belajar yang hanya semata-mata dari pengalaman dalam kehidupan sosial masyarakat. Belajar dengan proses pembelajaran ada peran guru, bahan belajar dan lingkungan kondusif yang sengaja diciptakan.
Beberapa ciri atau prinsip dalam belajar menurut Paul Suparno yaitu:
1.      Belajar berarti mencari makna. Makna diciptakan oleh siswa dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan dan alami.
2.      Konstruksi makna adalah proses yang terus menerus.
3.      Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta, tetapi merupakan pengembangan pemikiran dengan membuat pengertian yang baru.
4.      Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman subyek belajar dengan dunia fisik dan lingkungannya.
5.      Hasil belajar tergantung pada apa yang telah diketahui si subyek belajar, tujuan, motivasi mempengaruhi proses interaksi dengan bahan yang sedang dipelajari.[10]

Setiap individu, bila melaksanakan kegiatan belajar akan mengalami perubahan tingkah laku yang positif. Peristiwa belajar yang disertai proses pembelajaran akan lebih terarah dan sistematik daripada belajar yang hanya semata-mata dari pengalaman kehidupan sosial di masyarakat.
Dalam pembelajaran siswa dipandang sebagai pusat pembelajaran. Guru harus dapat mengusahakan sistem pembelajaran sehingga dalam pembelajaran siswa dapat menguasai pembelajaran secara optimal dan mencapai hasil yang optimal pula. Belajar dan pembelajaran diperlukan adanya bimbingan, karena belajar mengajar dikatakan berhasil apabila anak-anak belajar sebagai akibat usaha membimbing aktivitas anak.
Matematika berasal dari bahasa latin “manhenern” atau “mathema” yang berarti belajar atau hal yang harus dipelajari, sedangkan dalam bahasa Belanda disebut “wiskunde” atau ilmu pasti yang berkaitan dengan penalaran. Matematika merupakan pelajaran yang memerlukan pemusatan pemikiran untuk mengingat dan mengenal kembali semua aturan-aturan yang ada yang harus dipenuhi untuk menguasai materi yang dipelajari.[11]
Menurut Hudoyo bahwa matematika itu berkenaan dengan ide-ide (gagasan-gagasan), struktur-struktur dan hubungan-hubungan yang diatur secara logik sehingga matematika itu berkaitan dengan konsep-konsep abstrak.[12] Karena matematika berkenaan dengan ide-ide abstrak yang diberi simbol-simbol itu tersusun secara hirarkis dan penalarannya deduktif, maka konsep-konsep matematika harus dipahami lebih dulu sebelum manipulasi simbol-simbol itu.
Selanjutnya Sujono mengemukakan definisi matematika sebagai berikut:
a.       Matematika adalah ilmu yang eksak dan terorganisir secara sistematis.
b.      Matematika adalah cabang pengetahuan manusia tentang bilangan kalkulasi.
c.       Matematika membantu orang dalam menginterpretasikan secara tepat berbagai ide dan kesimpulan.
d.      Matematika adalah ilmu yang berhubungan dengan simbol-simbol dan bilangan.[13]

Pembelajaran matematika merupakan kegiatan yang menggunakan matematika sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Matematika dapat mencerdaskan siswa dan membentuk kepribadian serta mengembangkan keterampilan siswa. Jadi, pada hakekatnya pembelajaran matematika adalah proses yang sengaja dirancang dengan tujuan untuk menciptakan suasana lingkungan yang memungkinkan seseorang (sipelajar) melaksanakan kegiatan belajar matematika, dan proses tersebut berpusat pada guru mengajar matematika.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa proses belajar dan pembelajaran matematika adalah suatu proses yang melibatkan guru dan siswa, dimana perubahan tingkah laku siswa diarahkan pada bagaimana siswa tersebut dapat berfikir secara sistematis, dan dalam mengajar guru harus pandai mencari model pembelajaran yang tepat sehingga dapat membantu siswa dalam aktivitas belajarnya.

B.     Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing
Dalam rangka membelajarkan siswa banyak pakar pendidikan telah mengembangkan berbagai model pembelajaran dengan harapan akan dapat lebih meningkatkan mutu proses dan hasil belajar.
Istilah model pembelajaran amat dekat dengan strategi pembelajaran. Strategi Pembelajaran menurut Soedjadi adalah suatu siasat melakukan kegiatan pembelajaran yang bertujuan mengubah suatu keadaan pembelajaran kini menjadi pembelajaran yang diharapkan.[14] Metode adalah cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki.
Pendekatan (approach) pembelajaran matematika adalah cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran agar konsep yang disajikan bisa beradaptasi dengan siswa.
Dalam suatu pendekatan dapat dilakukan lebih dari satu metode dan dalam satu metode dapat digunakan lebih dari satu teknik, dengan demikian metode dan teknik mengajar adalah ibarat dua sisi mata uang yang berbeda tetapi tidak terpisah dalam pelaksanaannya di lapangan. Secara sederhana dapat ditulis sebagai rangkaian sebagai berikut:
Stategi           Pendekatan            Metode           Teknik
sehingga istilah model pembelajaran mempunyai 4 ciri khusus yang tidak dipunya oleh strategi atau metode tertentu, yaitu:
1.      Rasional teoritik yang logis yang disusun oleh penciptanya.
2.      Tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.
3.      Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut berhasil.
4.      Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran tercapai.
Model pembelajaran dimaksudkan sebagai pola interaksi siswa dengan guru di dalam kelas yang menyangkut strategi, pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran yang diterapkan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas. Dengan demikian model pembelajaran adalah pola komprehensif yang patut dicontoh menyangkut bentuk utuh pembelajaran meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran.
Sedangkan pendekatan pembelajaran adalah cara pandang terhadap pembelajaran dari sudut tertentu untuk memudahkan pemahaman terhadap pembelajaran yang selanjutnya diikuti perlakuan pada pembelajaran tersebut.
Model pembelajaran dapat mengasah kemampuan dan keterampilan siswa dalam mengembangkan dirinya. Untuk mengembangkan dirinya tersebut, siswa harus memahami konsep-konsep materi yang diajarkan. Agar setiap konsep dari materi tersebut dapat dikuasai oleh siswa dalam pembelajaran matematika, salah satu upaya yang dilakukan oleh guru adalah menggunakan model pembelajaran penemuan terbimbing, karena model ini selain dapat mengembangkan kemampuan kognitif siswa, juga dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap matematika.
Mengajar matematika sekedar sebagai sebuah penyajian tentang fakta-fakta hanya akan membawa sekelompok orang menjadi penghapal yang baik, tidak cerdas melihat hubungan sebab akibat, dan tidak pandai memecahkan masalah.
Penemuan adalah terjemahan dari discovery. Menurut Sound Penemuan adalah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasi sesuatu konsep atau prinsip.[15] Senada dengan pendapat Robert B yang menyatakan penemuan adalah proses mental dimana anak didik atau individu mengasimilasi konsep dan prinsip.[16]
Model penemuan merupakan pengajaran yang Mengharuskan siswa mengolah pesan sehingga memperoleh pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai. Dalam penemuan siswa dirancang untuk terlibat dalam melakukan penemuan. Tujuan utama model penemuan adalah mengembangkan keterampilan intelektual, berpikir kritis, dan mampu memecahkan masalah secara ilmiah.[17] Untuk mengembangkan keterampilan tersebut, guru mempunyai peranan untuk membimbing siswa sehingga siswa mampu bereksplorasi dalam penemuan dan pemecahan masalah.
Model penemuan terbimbing adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan suatu dialog atau interaksi siswa dengan guru. Dimana siswa mencari kesimpulan yang diinginkan melalui suatu urutan pertanyaan  yang diatur oleh guru, yang mana urutan pertanyaan tersebut dapat mengembangkan konsep dan prinsip matematika.[18]
Menurut Jerome Bruner penemuan adalah suatu jalan atau cara dalam mendekati permasalahan bukannya satu produk atau item pengetahuan tertentu.[19] Teori pendukung dari model penemuan terbimbing berdasarkan pada teori Jerome Bruner, dimana ia adalah salah satu penganut teori kognitif khususnya dalam studi perkembangan fungsi kognitif. Ia menandai perkembangan kognitif  manusia sebagai berikut:
a.       Perkembangan intelektual ditandai dengan adanya kemajuan dalam menanggapi suatu rangsangan.
b.      Peningkatan pengetahuan tergantung pada perkembangan sistem penyimpanan informasi secara realis.
c.       Perkembanngan intelektual meliputi perkembangan kemampuan berbicara pada diri sendiri atau pada orang lain melalui kata-kata atau lambang tentang apa yang telah dilakukan dan apa yang akan dilakukan.
d.      Interaksi secara sistematis antara pembimbing, guru atau orang tua dengan anak diperlukan bagi perkembangan kognitifnya.
e.       Bahasa adalah kunci perkembangan kognitif, karena bahasa merupakan alat komunikasi antara manusia. Bahasa diperlukan untuk mengkomunikasikan suatu konsep kepada orang lain.
f.       Perkembangan kognitif ditandai dengan kecakapan untuk mengemukakan beberapa alternatif secara simultan, memilih tindakan yang tepat, dapat memberikan prioritas yang berurutan dalam berbagai situasi.[20]

Dengan teorinya yang disebut dengan free discovery learning, ia mengatakan bahwa proses belajar dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia temui dalam kehidupannya.[21]
Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan  oleh caranya melihat lingkungan, yaitu:
a.       Tahap enaktif, seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upayanya untuk memahami lingkungan sekitarnya.
b.      Tahap ikonik, seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal.
c.       Tahap simbolik, seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika.[22]

Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing dianjurkan untuk diterapkan, hal itu disebabkan karena model penemuan terbimbing itu:
1.      Merupakan suatu cara untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif.
2.      Dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan tahan lama dalam ingatan dan tidak mudah dilupakan oleh siswa.
3.      Pengertian atau konsep yang ditemukan sendiri merupakan pengertian yang betul-betul dikuasai dan mudah digunakan dalam situasi lain.
4.      Dengan menggunakan model penemuan siswa belajar menguasai salah satu metode ilmiah yang akan dikembangkannya sendiri.
5.      Dengan model penemuan ini, siswa belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan problema yang dihadapi sendiri.[23]

Jadi model penemuan terbimbing merupakan suatu model pembelajaran yang berpusat pada siswa, dimana siswa mencari kesimpulan dari urutan pertanyaan yang diatur oleh guru sehingga siswa dapat menemukan konsep dan prinsip matematika. Dengan model penemuan terbimbing, siswa dihadapkan kepada situasi dimana siswa bebas menyelidiki dan menarik kesimpulan. Terkaan, intuisi, dan mencoba-coba (trial and error) dianjurkan dan guru sebagai penunjuk jalan membantu siswa agar mempergunakan ide, konsep dan keterampilan yang sudah mereka pelajari untuk menemukan pengetahuan yang baru.
Dalam model pembelajaran penemuan terbimbing, peran siswa cukup besar karena pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru tetapi pada siswa. Guru memulai kegiatan belajar mengajar dengan menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan siswa dan mengorganisir kelas untuk kegiatan seperti pemecahan masalah, investigasi atau aktivitas lainnya. Pemecahan masalah merupakan suatu tahap yang penting dan menentukan. Ini dapat dilakukan secara individu maupun kelompok. Dengan membiasakan siswa dalam kegiatan pemecahan masalah dapat diharapkan akan meningkatkan kemampuan siswa dalam mengerjakan soal matematika, karena siswa dilibatkan dalam berpikir matematika pada saat manipulasi, eksperimen dan menyelesaikan masalah.

C.    Langkah-Langkah Penemuan Terbimbing
Agar pelaksanaan model penemuan terbimbing dapat berjalan dengan efektif, beberapa langkah dalam penemuan terbimbing adalah sebagai berikut:
1.      Merumuskan masalah yang akan diberikan pada siswa.
2.      Dari masalah yang diberikan guru, siswa menyusun, memproses, mengorganisir dan menganalisis masalah tersebut. Dalam hal ini bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang diperlukan saja.
3.      Siswa menyusun perkiraan dari hasil analisis yang dilakukan.
4.      Perkiraan yang telah dibuat oleh siswa sebaiknya diperiksa oleh guru. Hal ini penting dilakukan untuk meyakinkan kebenaran perkiraan siswa, sehingga akan menuju arah yang hendak dicapai.
5.      Sesudah siswa menemukan apa yang dicari, hendaknya guru menyediakan soal latihan atau soal tambahan untuk memeriksa apakah hasil penemuan itu benar.[24]











Dari langkah-langkah di atas maka langkah-langkah model pembelajaran penemuan terbimbing dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Guru membagi siswa atas beberapa kelompok
Guru merumuskan masalah yang akan diberikan kepada siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran
Guru memberikan Lembaran Kerja Siswa
Siswa menganalisa masalah di dalam LKS dan guru membimbing siswa dalam proses tersebut
Siswa membuat  perkiraan dari hasil analisa yang telah mereka lakukan kedalam LKS
Guru memeriksa perkiraan yang telah dibuat oleh siswa
Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerja mereka di depan kelas, dan siswa yang lain memberikan tanggapan. Kemudian guru membimbing siswa untuk membuat kesimpulan
Pada akhir pelajaran guru memberikan kuis











 



















Dari bagan di atas, dapat dijelaskan bahwa dalam pelaksanaan model penemuan terbimbing terlebih dahulu guru membagi siswa atas beberapa kelompok berdasarkan kemampuan akademik. Kemudian guru merumuskan masalah yang akan diberikan kepada siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran. Setelah merumuskan masalah, lalu guru membagikan Lembar Kerja Siswa (LKS). Di dalam LKS berisi langkah-langkah yang berupa pertanyaan yang akan membimbing siswa untuk menemukan suatu konsep dalam matematika yang berupa rumus-rumus yang berhubungan dengan indikator pembelajaran. Selain itu, LKS juga berisi soal-soal agar konsep yang diperoleh siswa dapat dipahami oleh siswa tersebut.
Dari LKS yang diberikan guru, siswa menganalisa masalah yang ada dalam LKS tersebut, kemudian siswa menyusun perkiraan dari hasil analisis yang dilakukan. Lalu guru memeriksa perkiraan yang dibuat oleh siswa. Setelah itu masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerja mereka di depan kelas dan siswa lain memberikan tanggapan, kemudian guru membimbing siswa untuk membuat kesimpulan. Pada akhir pembelajaran guru memberikan kuis yang berupa soal uraian.
Sesuai dengan langkah penemuan terbimbing, siswa diharapkan dapat mengembangkan pemahamannya, guru memberikan soal latihan tambahan dalam bentuk pekerjaan rumah (PR).

D.    Hasil Belajar
Dalam kehidupan manusia setiap saat terjadi proses belajar, baik secara formal, informal, maupun nonformal. Dengan belajar manusia dapat mengalami perubahan-perubahan kearah yang lebih baik setelah melakukan kegiatan belajar.
Dalam proses belajar mengajar tentu ada umpan balik, ini berguna untuk melihat sejauh mana kemampuan siswa. Upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan melakukan evaluasi. Dengan melakukan evaluasi, guru dapat melihat hasil belajar siswa. Evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai keberhasilan belajar siswa setelah ia mengalami proses belajar selama suatu periode tertentu.[25]
Hasil belajar merupakan tolak ukur untuk menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam memahami dan menguasai materi pelajaran. Dengan demikian terlihat bahwa hasil belajar matematika siswa sangat menentukan keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Hasil belajar adalah sesuatu yang diperoleh siswa setelah melakukan proses pembelajaran dilaksanakan, baik dalam bentuk prestasi belajar maupun perubahan tingkah laku dan sikap.
Sementara itu menurut Bloom didalam taksonominya (Taksonomi Bloom) hasil belajar dapat dikategorikan menjadi tiga kawasan, yaitu:
a.       Ranah kognitif (cognitive domain), yang mengacu pada respon intelektual seperti pengetahuan, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi.
b.      Ranah afektif (affective domain), yang mengacu pada respon sikap.
c.       Ranah psikomotor (psychomotor domain), yang mengacu pada perbuatan.[26]

Dalam proses pembelajaran, hasil belajar merupakan tujuan akhir yang ingin dicapai setelah proses belajar mengajar dilaksanakan. Hasil yang diharapkan tentunya adalah hasil yang semaksimal mungkin. Untuk mencapai hasil tersebut tentu harus ada kemauan dan rasa ingin tahu terhadap materi yang dipelajari.
            Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa adalah dengan menggunakan tes. Tes ini digunakan untuk menilai hasil-hasil yang akan dicapai siswa dalam mempelajari suatu materi pelajaran yang telah dikerjakan.
Hasil belajar adalah tolak ukur untuk menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam memehami dan menguasai materi pelajaran. Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah aspek kognitif yang diukur melalui tes hasil belajar setelah siswa mengikuti pembelajaran model penemuan terbimbing dengan tes hasil belajar sebelum diberikan model pembelajaran penemuan terbimbing.

E.     Kerangka Konseptual
Dalam pelajaran matematika siswa diajak untuk berpikir kritis dan kreatif dalam menyelesaikan setiap soal yang diberikan. Model pembelajaran dilakukan sesuai dengan langkah-langkah yang telah ditentukan. Untuk mengetahui pengaruh pelaksanaan model pembelajaran penemuan terbimbing ini dengan hasil belajar matematika siswa, penulis melihat hasil belajar matematika siswa dengan melakukan model pembelajaran penemuan terbimbing berupa nilai pembelajaran penemuan terbimbing dalam bentuk soal uraian (X). Kemudian membandingkannya dengan hasil belajar matematika setelah dilakukan model pembelajaran penemuan terbimbing tersebut (Y).
 Untuk menunjang proses penelitian dibuat skema kerangka konseptual sebagai berikut:

Siswa

Proses Belajar Mengajar dengan Model Penemuan Terbimbing

Nilai Posttest (Y)
Nilai pretest (X)
 





Gambar 1: Skema Kerangka Konseptual
Untuk melihat ada atau tidaknya pengaruh dari pelaksanaan model pembelajaran ini, sebagai pembandingnya adalah nilai pretest (sebelum diberikan model pembelajaran penemuan terbimbing) dan posttest (setelah diberikan model pembelajaran penemuan terbimbing).

F.     Hipotesis
Sesuai dengan rumusan masalah dan kajian teori yang telah dikemukakan di atas, maka penulis mengemukakan hipotesis sebagai berikut:
“Terdapat Pengaruh Positif Pelaksanaan Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing Terhadap Hasil Belajar Matematika di Kelas VIII MTsN Mu’allimin pakan sinayan”.







23
BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian
Penelitian eksperimen merupakan bentuk penelitian dimana peneliti dengan sengaja memberikan perlakuan kepada responden (subjek), selanjutnya mengamati dan mencatat reaksi subjek kemudian melihat hubungan antara perlakuan yang diberikan dan reaksi yang muncul dari subjek. Hakekat tujuan penelitian eksperimen adalah meneliti pengaruh perlakuan terhadap perilaku yang timbul sebagai akibat perlakuan.
Berdasarkan permasalahan yang diteliti, jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental-semu (quasi-experimental research). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang dapat diperoleh dengan eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan tidak memungkinkan untuk mengontrol dan/atau memanipulasikan semua variabel yang relevan.[27]

B.     Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan adalah One Group Pretest-Posttest Design dimana dalam penelitian yang hanya dilakukan pada satu kelompok sampel. Rancangan penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Tabel 2: Rancangan Penelitian  One Group Pretest-Posttest Design
Pretest
Treatment
Posttest
T1
X
T2

Keterangan:
T1     =        Pretest untuk mengukur hasil belajar sebelum subjek diberikan perlakuan.
X     =        Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing.
T2     =        Posttest setelah melakukan model pembelajaran penemuan terbimbing.[28]

C.    Populasi dan Sampel Penelitian
1.      Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala, nilai, peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tersendiri.[29]
Yang menjadi populasi dalam hal ini adalah seluruh siswa kelas VIII MTsN Mu’allimin pakan sinayan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 3: Jumlah Populasi Penelitian Kelas VIII ponpes muallimin pakan sinayan sinayan
No
Kelas
Jumlah Populasi
1
VIII.1
20
2
VIII.2
20
                          Sumber: guru bidang studi
               
2.      Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi, sebagai contoh yang diambil menggunakan cara tertentu.[30] Yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah satu kelas. Untuk menentukan kelas sampel tersebut penulis  melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a.    Mengumpulkan nilai ulangan  matematika siswa kelas VIII MTsN Mu’allimin pakan sinayan.
b.   Melakukan uji normalitas populasi terhadap nilai ulangan harian matematika kelas VIII yang bertujuan untuk mengetahui apakah populasi berdistribusi normal atau tidak.
Hipotesis yang diajukan adalah:
H0 = Populasi berdistribusi normal
H1 = Populasi berdistribusi tidak normal
Untuk melihat sampel berdistribusi normal, digunakan uji lilieforst dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1)   Data nilai ulangan harian siswa setiap kelas pada populasi disusun dari yang terkecil sampai yang terbesar.
2)   Mencari skor baku dari skor mentah dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Zi =
Dimana:
S = Simpangan baku
Xi = skor dari tiap soal
 = skor rata-rata
3)   Dengan menggunakan daftar distribusi normal baku, kemudian dihitung peluang F (Zi) = P (P ≤ Zi)
4)   Menghitung jumlah proporsi skor baku atau sama Zi yang dinyatakan dengan S(Zi) dengan menggunakan rumus:
S(Zi) =  
5)   Menghitung selisih F(Zi) – S(Zi), kemudian ditentukan nilai mutlaknya.
6)   Ambil harga mutlak yang terbesar dari harga mutlak selisih itu diberi simbol L0. L0 = maks  
7)   Bandingkan nilai L0 yang diproleh dengan nilai L0 yang ada pada tabel. Pada taraf 0,05 jika L0 ≤ Ltabel maka H0 diterima. Dari hasil analisis data pada taraf nyata α = 0,05 terlihat bahwa L0 < Ltabel maka H0 diterima. Berarti data tersebut berasal dari populasi berdistribusi normal.[31]
Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan bantuan software SPSS.

c.    Melakukan uji homogenitas variansi dengan menggunakan uji Bartlett. Uji ini bertujuan untuk melihat apakah populasi mempunyai variansi yang homogen atau tidak.
Hipotesis yang diajukan yaitu:
H0 : σ12 = σ22… = σk2 (populasi mempunyai variansi homogen)
H1 : σ12 ≠ σ22… = σk2 (tidak homogen)
Langkah-langkah uji Bartlett:
1)      Hitung k buah ragam contoh S1,S2,…, Sk dari contoh berukuran n1, n2,…, nk dengan N =
d.   Uji kesamaan rata-rata dengan menggunakan uji ANOVA satu arah. Uji dilakukan dengan menggunakan software minitab. Hipotesis yang diajukan adalah:
H0 : µ1 = µ2 = µk (mean dari semua kelompok sama)
H1 : Minimal ada satu tidak sama
Langkah-langkah uji Anova:
1)      Hitung simpangan kuadrat tiap skor rata-rata keseluruhan. Indeks ini disebut jumlah kuadrat ( )
                      
2)      Menghitung jumlah kuadrat antar kelompok ( )
 
3)      Menghitung jumlah kuadrat dalam kuadrat ( )
 
4)      Buat tabel variansi
Sumber variansi
JK
Derajat bebas
Kuadarat mean
F
Taraf nyata
Antar kelompok

k - 1



Dalam kelompok

n - k



Total






KMak =  
KMdk =  
Frasio =  
5)      Membandingkan Frasio dengan Ftabel. Jika Frasio < Ftabel terima H0 dan tolak H1.[32]


D.    Variabel dan Data Penelitian
a.       Variabel
Untuk melihat suatu treatment maka ada variabel yang mempengaruhi dan variabel akibat, variabel yang mempengaruhi disebut variabel penyebab, variabel bebas atau Independent Variable (x). sedangkan variabel akibat disebut variabel tak bebas, variabel tergantung, variabel terikat atau Dependent Variable (y).[33] Variabel dalam penelitian ini ada dua, yaitu:
1.      Variabel bebas adalah pelaksanaan model pembelajaran penemuan terbimbing (x).
2.      Variabel terikatnya adalah hasil belajar matematika siswa setelah dilakukan model pembelajaran penemuan terbimbing atau tes akhir (y). 

b.      Jenis Data
1)      Data Primer
Data primer adalah data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti dari sumbernya. Data primer dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa yang diperoleh sebelum dan setelah mengadakan model pembelajaran penemuan terbimbing.
2)      Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang telah tersusun dalam dokumen-dokumen yang telah diarsipkan. Data sekunder dalam penelitian ini adalah jumlah siswa yang menjadi populasi dan nilai ulangan harian siswa kelas VIII MTsN Mu’allimin pakan sinayan.
c.       Sumber data
Sumber data dalam penelitian ini adalah:
1)      Data primer bersumber dari siswa kelas VIII MTsN Mu’allimin pakan sinayan yang menjadi sampel dalam penelitian ini.
2)      Data sekunder bersumber dari guru bidang studi matematika MTsN Muallimin pakan sinayan.

E.     Prosedur Penelitian
Dalam bagian ini akan dibahas mengenai tahap-tahap yang dilakukan dalam pengambilan data pada penelitian yaitu:
1.      Tahap Persiapan
a.        Menetapkan tempat dan jadwal penelitian.
b.      Menetapkan sampel penelitian.
c.       Menyusun perangkat pembelajaran seperti:
1.      Meminta silabus pelajaran matematika kelas VIII berdasarkan KTSP kepada guru mata pelajaran matematika.
2.      Membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang dibuat berdasarkan KTSP.
3.      Menyiapkan materi, LKS dan alat peraga.
4.         Membuat soal tes berdasarkan kisi-kisi uji coba tes.
2.      Tahap Pelaksanaan
a.       Guru membagi siswa atas beberapa kelompok berdasarkan tingkat kemampuan akademik.
b.      Guru merumuskan masalah yang akan diberikan kepada siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran.
c.       Guru memberikan LKS kepada siswa
d.      Siswa menganalisa masalah di dalam LKS dan guru membimbing siswa dalam proses tersebut.
e.       Siswa membuat perkiraan dari hasil analisa yang telah mereka lakukan ke dalam LKS.
f.       Guru memeriksa perkiraan yang telah dibuat oleh siswa.
g.      Guru menunjuk perwakilan salah satu kelompok untuk mempresentasikan hasil kerja mereka di depan kelas.
h.      Meminta kelompok lain memberikan tanggapan hasil presentasi kelompok yang tampil.
i.        Guru mengarahkan dan membimbing siswa untuk membuat suatu kesimpulan.
j.        Memberikan kuis pada akhir pembelajaran untuk melihat sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan.
3.      Tahap Penyelesaian
Pada tahap ini penulis memberikan tes akhir untuk melihat hasil belajar siswa, tes tersebut kemudian dianalisis untuk menguji hipotesis.

F.     Instrumen Penelitian
Instrument yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa, penulis menyusun tes yang berupa tes essay atau uraian. Dalam menyusun tes hasil belajar, langkah-langkah yang dilakukan adalah:
1.      Penyusunan Tes
a.       Mengkaji konsep yang diajarkan.
b.      Membuat kisi-kisi soal.
c.       Menyusun item soal.
2.      Validasi tes
Tes dikatakan valid jika dapat mengukur apa yang hendak diukur, validitas tes yang digunakan adalah validitas isi untuk melihat apakah tes tersebut sesuai dengan kurikulum dan bahan pelajaran yang telah diajarkan. Dalam hal ini yang bertindak sebagai validator adalah dosen pembimbing dan guru bidang studi.
3.      Melaksanakan Tes
Dalam suatu penelitian, hasilnya dapat dipercaya apabila data yang digunakan benar-banar akurat dan berkualitas, maka terlebih dahulu dilakukan uji coba tes terhadap tes yang telah disusun, Uji coba tes dilakukan di kelas selain kelas sampel yang memiliki ciri dan karakteristik yang sama dengan kelas sampel.
4.      Analisis Item
Setelah uji coba dilakukan, dilanjutkan dengan analisis item untuk melihat apakah keberadaan suatu soal yang disusun itu baik atau tidak. Agar soal-soal yang digunakan dapat memenuhi kriteria sebagai alat ukur yang baik, maka diteliti validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran soal dan daya pembeda soal.
a.       Validitas
Validitas berkenaan dengan ketepatan alat penilaian terhadap konsep yang dinilai sehingga betul-betul menilai apa yang seharusnya dinilai sehingga betul-betul menilai apa yang seharusnya dinilai. [34]
Validitas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah validitas item. Sebuah tes dikatakan valid apabila mempunyai daya dukung yang sangat besar pengaruhnya terhadap skor total.
Untuk menentukan validitas tes digunakan rumus korelasi Product Moment:
Keterangan:
    :    Koefisien korelasi antara variabel X dan variable Y
       :    Jumlah teste
  :    Jumlah perkalian antara skor item dan skor total
    :    Jumlah skor item
    :    Jumlah skor total
Kriteria interpretasi “r” product moment:
                         :    tidak kriteria korelasi
         :    korelasi sangat rendah
0,20         :    korelasi rendah
0,40         :    korelasi cukup
0,60         :    korelasi tinggi
         :    korelasi sangat tinggi
                         :    korelasi positif sempurna[35]

b.      Reliabilitas
Jika sbuah tes dapat memberikan hasil yang tetap, maka tes tersebut mempunyai reliabilitas yang tinggi. Untuk soal yang berbentuk uraian, maka mencari reliabilitas soal dapat digunakan rumus Flanagan:
      Keterangan:
      r11                   :  Reliabilitas instrument
                                   : Banyaknya butir pertanyaan atau banyak soal
      : Jumlah varians skor tiap-tiap soal
              : Varians total
                 : 1,2,3,…k
Dengan kriteria klasifikasi reliabitas adalah:
0,8 ≤ r11 ≤ 1,00     : Sangat tinggi
0,6 ≤ r11 ≤ 0,8       : Tinggi
0,4 ≤ r11 ≤ 0,6       : Sedang
0,2 ≤ r11 ≤ 0,4       : Rendah
0,0 ≤ r11 ≤ 0,2       : Sangat rendah[36]


c.       Indeks Kesukaran Soal
Untuk menentukan tingkat kesukaran soal-soal dapat ditentukan dengan rumus yang dikemukakan oleh Pratiknyo yaitu:
                   Dimana:
                   : Indeks kesukaran
                      : Jumlah skor dart kelompok tinggi
                    : Jumlah skor dari kelompok rendah
                    m   : Skor setiap soal jika betul
                    n    : 27% dari peserta tes
                    Dengan ketentuan:
                    Soal sukar, jika Ik < 27% maka soal dibuang atau diperbaiki
                    Soal sedang, jika 27% ≤ Ik ≤ 73% maka soal dipakai
                     Soal mudah, jika 73%  < Ik maka soal dibuang atau diperbaiki[37]

d.      Daya Pembeda Soal
Untuk menentukan soal yang berbentuk essay atau uraian, maka digunakan rumus:
 
                 Dimana:
                 Ip                : Indeks pembeda soal
                Mt                : Rata-rata skor kelompok tinggi
                Mr                : Rata-rata skor kelompok rendah
                      : Jumlah kuadrat deviasi skor kelompok tinggi
                      : Jumlah kuadrat deviasi skor kelompok rendah
                                  : 27% dari peserta tes
                Adapun kriteria yang dipakai untuk daya pembeda soal adalah:
0,4 – 1         : Baik sekali
0,3 – 0,39    : Baik
0,2 – 0,29    : Sedang
0 – 0,19       : Jelek
Tes dikatakan signifikan jika:
50% dari jumlah soal IP ≥ 0,4
40% dari jumlah soal 0,20 ≤ IP ≤ 0,04
10% dari jumlah soal 0,10 ≤ IP ≤ 0,19[38]

G.    Teknik Analisis Data
Uji persyaratan analisis:
1.      Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah sampel berdistribusi normal atau tidak. Untuk melihat sampel berdistribusi nrmal atau tidak digunakan uji Liliefors. Berdasarkan sampel akan diuji hipotesis nol bahwa sampel tersebut berasal dari populasi berdistribusi normal melawan hipotesis tandingan bahwa distribusi tidak normal. Hipotesis yang diajukan adalah:
H0 = Data berdistribusi normal
H1 = Data berdistribusi tidak normal
Langkah-langkah yang dapat ditempuh sebagai berikut:
1)        Data nilai ulangan harian siswa setiap kelas pada populasi disusun dari yang terkecil sampai yang terbesar.
2)        Mencari skor baku dari skor mentah dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Zi =
Dimana:
S = Simpangan baku
Xi = skor dari tiap soal
 = skor rata-rata
Dengan menggunakan daftar distribusi normal baku, kemudian dihitung peluang F (Zi) = P (P ≤ Zi)
3)        Menghitung jumlah proporsi skor baku atau sama Zi yang dinyatakan dengan S(Zi) dengan menggunakan rumus:
S(Zi) =  
4)        Menghitung selisih F(Zi) – S(Zi), kemudian ditentukan nilai mutlaknya.
5)        Ambil harga mutlak yang terbesar dari harga mutlak selisih itu diberi simbol L0. L0 = maks .
6)        Bandingkan nilai L0 yang diproleh dengan nilai L0 yang ada pada tabel. Pada taraf 0,05 jika L0 ≤ Ltabel maka H0 diterima. Dari hasil analisis data pada taraf nyata α = 0,05 terlihat bahwa L0 < Ltabel maka H0 diterima. Berarti data tersebut berasal dari populasi berdistribusi normal.[39]
Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan bantuan software SPSS.


2.    Uji Homogenitas
Pengujian homogenitas adalah pengujian mengenai sama tidaknya variansi-variansi dua buah distribusi atau lebih. Uji homogenitas variansi digunakan untuk membandingkan dua buah Uji homogenitas yang digunakan adalah uji F. uji dilakukan dengan menggunakan bantuan software SPSS. Hipotesis yang diajukan adalah:
H0 : S12 = S22 ( distribusi bersifat homogen)
H1 : S12 ≠ S22 ( distribusi bersifat tidak homogen)
Rumus uji statistik yang digunakan adalah: F =
Dimana:
F          = Uji homogenitas
S12        = Variansi terbesar
S22        = Variansi terkecil
Kriteria uji yang digunakan adalah dua buah distribusi dikatakan memiliki penyebaran yang homogen apabila nilai Fhitung < Ftabel dengan α tertentu dan dk1 = (n1 - 1) dan dk2 = (n2 – 1), dalam hal lainnya distribusi tidak homogen.[40]





3.    Persamaan Regresi Linear Sederhana
Analisis data dilakukan dengan berorientasi kepada masalah dan tujuan penelitian. Untuk mencapai tujuan ini digunakan analisis regresi linier sederhana yang dikemukakan oleh Ronald E. Walpole:
 
Keterangan:
         :    Nilai tes hasil belajar setelah model pembelajaran penemuan  terbimbing.
         :    Nilai tes hasil belajar sebelum model pembelajaran penemuan    terbimbing.
a,b       :    Koefisien regresi sampel.
a          :    Perpotongan (interaksi) dimana y jika x = 0
b          :    Slope (kemiringan)[41]
Untuk menentukan harga koefisien a dan b dapat dihitung menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Sudjana:
           
             
Dimana:
X : Rata-rata skor variabel X
Y : Rata-rata skor variabel Y
Jika terlebih dahulu dihitung koefisien b, maka koefisien a dapat pula ditentukan dengan rumus:

4.      Keberartian Regresi dan Uji Linieritas
a.       Keberartian Regresi
Setelah diperoleh persamaan regresi sederhana, kemudian dilakukan uji keberartian regresi dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1)      Menentukan rumusan hipotesis H0 dan H1. Hipotesis yang akan diuji adalah:
H0 : ρ = 0 (tidak ada pengaruh variabel X terhadap variabel Y)
H1 : ρ ≠ 0 (ada pengaruh variabel X terhadap variabel Y)
2)      Menentukan uji statistika yang sesuai. Uji statistika yang digunakan adalah uji F. untuk menentukan nilai uji F dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
a.       Menghitung jumlah kuadrat regresi (JKreg(a)) dengan rumus: JKreg(a) =  
b.      Menghitung jumlah kuadrat regresi b|a (JK reg b|a), dengan rumus: JKreg b|a = b.  
c.       Menghitung jumlah kuadrat residu (JKres) dengan menggunakan rumus: JKres =  
d.      Menghitung rata-rata jumlah kuadrat regresi a (RJKreg(a)) dengan rumus: RJKreg(a) = JKreg(a)
e.       Menghitung rata-rata jumlah kuadrat regresi b|a (RJKreg(a) dengan rumus: RJKreg(b|a) = JKreg(b|a)
f.       Menghitung rata-rata jumlah kuadrat residu (RJKres) dengan rumus: RJKres =
g.      Menghitung F, dengan rumus: F =
3)        Menentukan niali kritis (α) atau nilaitabel F pada derajat bebas dbreg b/a = 1 dan dbres = n-2
4)        Membandingkan nilai uji F dengan nilai tabel dengan kriteria uji, apabila nilai Fhitung ≥ Ftabel maka H0 ditolak.
5)        selanjutnya disusun dalam daftar analisis variansi (ANAVA) seperti pada tabel berikt:
Tabel 4: Analisis Variansi (ANAVA) Regresi
Sumber Variansi

DK

JK

RJK

Fhitung

Ftabel
Total
N
Regresi (a)
1
JK (a)
JK (a)


Regresi (b/a)
1
JK (b/a)
Residu
n-2
JK (S)
Tuna
k-2
JK (TC)


Galat
n-k
JK (E)
Sumber: Metode Statistika, Sudjana
6)       Berdasarkan tabel di atas, didapat:
JKT      =
JK(a)     =
JKreg(b|a)= b.
JKres     =
RJK(b|a) = JK(b/a)
RJKres  =
F          =  [43]
Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan bantuan software SPSS.
b.      Uji Kelinieran
Pemeriksaan kelinieran regresi dilakukan melalui pengujian hipotesis nol, bahwa regresi linier melawan hipotesis tandingan bahwa regresi tidak linier.pengujian ini dilakukan dengan menggunakan software SPSS. Hipotesis yang diajukan adalah:
 H0 = (garis regresinya linier)
 H1 : θ1 ≠ 0 (garis regresinya taklinier)
 Langkah-langkah uji linier regresi, yaitu:
1)      Menyusun tabel kelompok data variable x dan variable y.
2)      Menghitung jumlah kuadrat regresi (JKreg(a)) dengan menggunakan rumus: JKreg(a) =  
3)      Menghitung jumlah kuadrat regresi b|a (JKreg b|a) dengan menggunakan rumus: JKreg (b|a) = b.
4)      Menghitung jumlah kuadrat residu (JKres) dengan menggunakan rumus: JKres =
5)      Menghitung rata-rata jumlah kuadarat regresi a (RJKreg(a) dengan menggunakan rumus: RJKreg(b|a) = JKreg(b|a)
6)      Menghitung rata-rata jumlah kuadrat regresi b|a (RJKreg(a) dengan menggunakan rumus: RJKreg(b|a) = JKreg(b|a)
7)      Menghitung rata-rata jumlah kuadrat residu (RJKres) dengan menggunakan rumus: RJKres =  
8)      Menghitung jumlah kuadrat error (JKE) dengan menggunakan rumus: JKE =
Untuk menghitung JKE urutkan data x mulai dari data yang paling kecil sampai data yang paling besar.
9)      Menghitung jumlah kuadrat tuna cocok (JKTC) dengan menggunakan rumus: JKTC = JKres - JKE
10)  Menghitung rata-rata jumlah kuadrat tuna cocok (RJKTC) dengan menggunakan rumus: RJKTC =  
11)  Menghitung rata-rata jumlah kuadrat error (RJKE) dengan menggunakan rumus: RJKE =  
12)  Mencari nilai uji F dengan rumus: F =
13)  Menentukan kriteria pengukuran: jika nilai uji F < nilai tabel F, maka distribusi berpola linier.
14)  Mencari nilai Ftabel pada taraf signifikansi 95% atau α = 0,05 menggunakan rumus: Ftabel = F(1-á) (db TC, db E) dimana db TC = k – 2 dan db E = n – k
15)  Membandingkan nilai uji F dengan nilai tabel kemudian membuat kesimpulan.[44]
Gambar 2 : Diagram pencar dan garis regresi

X=cara belajar


 = Hasil Belajar
 






Sumber : Pengantar Statistika Ronald E. Walpole
5.      Menghitung Koefisien Korelasi dan Koefisien Determinasi
Untuk menghitung koefisien korelasi (r) diperoleh dengan rumus:
           
                  Keterangan:
                  r     =         Koefisien korelasi
                 n     =         Banyaknya anggota sampel
                 Xi    =         Variabel bebas (penerapan model pembelajaran)
                Yi     =         Variabel terikat (hasil tes belajar siswa)
           
Dengan ketentuan jika:
         :    Terdapat korelasi negatif sempurna antara variabel x dan y
            :    Terdapat korelasi positif sempurna antara variabel x dan y
            :    Tidak terdapat korelasi antara variabel x dan y
  :    Terdapat korelasi negative antara variabel x dan y
     :    Terdapat korelasi positif antara variabel x dan y[45]

Setelah harga koefisien korelasi (r) didapat, maka koefisien determinasi (r2) dapat diperoleh yang dinyatakan dalam (%) yaitu:
 
Hal ini menunjukkan berapa besar pengaruh variabel x terhadap y atau pengaruh cara belajar terhadap hasil belajar matematika siswa.
6.      Pengujian Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh yang berarti antara cara belajar terhadap hasil belajar matematika siswa . Hipotesis yang akan diuji dalam hal ini adalah:
H0 : ρ = 0 (tidak adanya pengaruh model pembelajaran penemuan terbimbing terhadap hasil belajar)
 H1 : ρ ≠ 0 (adanya pengaruh model pembelajaran penemuan terbimbibng terhadap hasil belajar)
Pengujian hipotesis ini dilakukan dengan bantuan software SPSS. Menguji hipotesis ini digunakan rumus, yaitu:
                       
                  Keterangan:
                 
                  r2 = koefisien determinasi
                   n = banyaknya anggota sampel
Dengan kriteria pengujian: H0 terima jika thitung  > ttabel dengan dk = n-2 pada taraf signifikan





DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu, Djoko Triprasetya. (2005). Strategi Belajar Mengajar untuk  fakultas tarbiyah komponen MKDK. Bandung: Pustaka Setia.
Arikunto, Suharsimi. (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Asdi Mahasatya.

Arikunto, Suharsimi. (2002). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.

Asri Budiningsih. (2005). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Dimyati. (2003). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Asdi Mahasatya.

Hamzah. (2000). Pembelajaran Matematika I. Jakarta: Bumi Aksara.


Hudoyo, H. (1998). Mengajar Belajar Matematika. Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.

Kunandar. (2007). Guru Profesional. Jakarta : Raja Grafindo.


Markaban. 2006. [2 maret 2011]. “Model Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan Penemuan Terbimbing”. Tersedia di : http://p4tkmatematika.org/downloads/ppp/PPP_penemuan_terbimbing.pdf

Margono. (2003). Metodologi Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.

Mulyasa. (2009). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Ramaja Rosda Karya.

Mursell, Nasution. (2002). Mengajar Dengan Sukses. Jakarta : Bumi Aksara.

Roestiyah. (2008). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Muhidin, Ali Sambas. (2007). Analisis Korelasi, Regresi,dan jalur dalam Penelitian. Bandung: Pustaka Setia.

Sardiman. (2004). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sudjana. (2002). Metode Statistika. Bandung : Tarsito.

Slameto. (2004). Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Suherman, Erman, dkk. (2003). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: JICA Universitas Pendidikan Indonesia.

Sukmadinata, Nana Syaodih. (2009). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Suryabrata, Sumadi. (2004). Metodologi Penelitian. Jakarta : Raja Grafindo.


Suryosubroto. (1997). Proses Belajar Mengajar Di Sekolah. Jakarta : Rineka Cipta.

Thoha, M. Chabib. (1996). Teknik Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Wipole, E. Ronald. (1989). Pengantar Statistika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.















[1] Erman Suherman dkk, Common Text Book Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer [ selanjutnya disebut Common Text Book], (Bandung: JICA UPI, 2001), h.44
         [2] Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2009), h. 105
        [3] Markaban. (2006). ”Model Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Penemuan Terbimbing” [selanjutnya disebut Model Pembelajaran Matematika], (online), (http://p4tkmatematika.org/downloads/ppp/PPP_penemuan_terbimbing.pdf), diakses 28  november 2015
       [4] Mursell dan Nasution [selanjutnya disebut Mursell], Mengajar Dengan Sukses, (Jakarta: Bumi Aksara, 2002), Cet. Ke-2, h.1
[5]Dimyati, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Sadi Mahasatya, 2003), h.22
[6] Slameto, Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), h.2
[7] Suherman, Commont Text Book…, hal.8
[8] Slameto, Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya…, h.3
[9] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), h.26 
       [10] Markaban.(2006).”Model Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Penemuan Terbimbing” [selanjutnya disebut Model Pembelajaran Matematika], (online), (http://p4tkmatematika.org/downloads/ppp/PPP_penemuan_terbimbing.pdf), diakses 28 November 2015
[11] Hamzah, Pembelajaran Matematika I, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), h.60
[12] Hudoyo, H, Mengajar Belajar Matematika, (Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan, 1988), h.3
[13] Sujono, Pengajaran Matematika Untuk Sekolah Menengah, (Jakarta: Depdikbud, 1998), h.4
[14] Markaban.(2006).”Model Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Penemuan Terbimbing” [selanjutnya disebut Model Pembelajaran Matematika], (online), (http://p4tkmatematika.org/downloads/ppp/PPP_penemuan_terbimbing.pdf), diakses 28 November  2015
       [15] Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), cet. 7, h. 20
       [16] Abu Ahmadi, Djoko Triprasetya, Strategi Belajar Mengajar untuk fakultas tarbiyah komponen MKDK, (Bandung: Pustaka Setia, 2005), h.76
       [17] Dimyati, Belajar dan Pembelajaran, …., h. 173
       [18] Markaban.(2006:10).”Model Pembelajaran Matematika”, (online), (http://p4tkmatematika.org/downloads/ppp/PPP_penemuan_terbimbing.pdf), diakses 28 November 2015
       [19] (http://p4tkmatematika.org/downloads/ppp/PPP_penemuan_terbimbing.pdf), diakses 28 November 2015
       [20] Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), cet.1, h. 40
       [21] Asri Budinigsih,………, h. 41
       [22] Asri Budiningsih,……………, h. 41
       [23] (http://p4tkmatematika.org/downloads/ppp/PPP_penemuan_terbimbing.pdf), diakses 28 November  2015

[24] Markaban.(2006:10).”Model Pembelajaran Matematika”, (online), (http://p4tkmatematika.org/downloads/ppp/PPP_penemuan_terbimbing.pdf), diakses 28 November 2015
[25] Kunandar, Guru Profesional, (Jakarta: Raja Grafindo, 2007), h.355
[26] M. Chabib Thoha, Teknik Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), h.27
       [27] Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), h.92
[28] Sumadi Suryabrata,………, h.102
[29] Margono, Metodologi Penelitian, (Jakarta : Rineka Cipta, 2003), h.118
[30] Margono, ………, hal.121
       [31] Sudjana, Metode Statistika, (Bandung: Tarsito, 2002), h.466
          [32] Margono, …………, h.211
[33] Suharsimi Ari Kunto [selanjutnya disebut Suharsimi], Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek [selanjutnya disebut Prosedur Penelitian], (Jakarta: Asdi Mahasatya, 2002), h.121
[34] Suharsimi, ……………, hal. 70
[35] Suharsimi,………………, h.75
        [36] Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1999), h.109
[37] Pratiknyo, Evaluasi Hasil Khusus analisa Soal Untuk Bidang Studi Matematika, (Jakarta: CV. Fortuna, 1985), h.14
[38] Pratiknyo, ……………, h.1
       [39] Sudjana, Metode Statistika, (Bandung: Tarsito, 2002), h.466
       [40] Sambas Ali Muhidin, Analisis Korelasi, Regresi, dan Jalur dalam Penelitian, (Bandung: Pustaka Setia, 2007), h.84
[41] Ronald E. Walpole, Pengantar Statistika, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1989), h. 342
[42] Sudjana,………, hal.315
       [43] Sambas Ali Muhidin,…………………, h.194
[44] Sambas Ali Muhidin,…………………, h.89
[45] Sudjana,………, hal.131
[46] Sudjana,….........., hal.380